Jalan Pattimura Selatan Blok B No. 7, Jombang Jawa Timur

Jombang, 29 Juli 2026 – Aliansi Inklusi Jombang menggelar bedah buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan di Kantor WCC Jombang. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi anak muda untuk membahas isu kerentanan, relasi kuasa, kekerasan, serta pentingnya membangun ruang aman yang inklusif.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Andi, pegiat literasi sekaligus penerbit Boenga Ketjil; Luqman, penggerak literasi dari Perpustakaan Rumah Baca Gang Masjid; dan Zaki, Koordinator Bookparty, komunitas anak muda penggerak literasi. Kegiatan dipandu oleh Arvy, relawan WCC Jombang yang aktif mengembangkan gerakan literasi di kalangan anak muda.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk keprihatinan terhadap meningkatnya kerentanan anak muda yang dapat menempatkan mereka sebagai korban maupun pelaku kekerasan. Melalui karya sastra, peserta diajak memahami bagaimana relasi kuasa, kekecewaan terhadap institusi, hingga minimnya dukungan sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri dan lingkungannya.

Dalam pemaparannya, Zaki menjelaskan bahwa novel tersebut menawarkan sudut pandang yang berbeda dari karya-karya pada umumnya. Tokoh utama, Kiran, digambarkan sebagai sosok yang mengalami kekecewaan mendalam terhadap institusi agama dan figur laki-laki setelah menyaksikan perilaku sejumlah orang yang tidak mencerminkan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.

“Yang paling terasa dari cerita ini adalah Kiran tidak beruntung karena tidak memiliki ruang aman dan dukungan sosial ketika menghadapi persoalannya. Padahal, kehadiran orang yang tepat dapat mengubah cara seseorang menghadapi luka dan kekecewaan,” ujar Zaki.

Sementara itu, Luqman mengajak peserta melihat cerita Kiran secara lebih kontekstual. Menurutnya, pergulatan tokoh tersebut juga dialami banyak anak muda yang sedang mencari pegangan di tengah berbagai persoalan kehidupan.

“Buku ini seharusnya tidak membuat kita kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai kebaikan. Justru setelah membaca, pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah, apa yang harus kita lakukan agar tetap berpihak pada nilai-nilai tersebut,” ungkapnya.

Andi menekankan bahwa karya sastra perlu dipahami sesuai konteksnya. Sastra bukanlah media untuk mentransfer ideologi, melainkan ruang untuk mengajak pembaca berpikir kritis terhadap realitas sosial.

“Fiksi memang memiliki unsur dramatisasi. Namun di dalamnya terdapat potret relasi kuasa dan hegemoni yang dapat membuat seseorang kehilangan keberdayaan. Karena itu, sastra penting dibaca sebagai ruang refleksi, bukan sekadar untuk mencari benar atau salah,” jelas Andi.

Diskusi juga menggarisbawahi pentingnya membangun ruang aman bagi perempuan dan anak muda. Ruang aman tidak hanya berarti terbebas dari kekerasan, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan, serta menguatkan kepercayaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui kegiatan ini, Aliansi Inklusi Jombang berharap ruang-ruang literasi dapat menjadi medium untuk memperkuat daya kritis anak muda, membangun empati, dan mendorong keberanian berdialog mengenai berbagai persoalan sosial yang selama ini kerap dianggap tabu. Sastra diharapkan tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga menjadi jembatan untuk memahami pengalaman hidup orang lain sekaligus mendorong lahirnya masyarakat yang lebih adil, setara, dan inklusif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *