Jalan Pattimura Selatan Blok B No. 7, Jombang Jawa Timur

Jombang – Isu penanganan kekerasan berbasis gender dan krisis psikososial kini mendapat sorotan tajam melalui pendekatan yang lebih humanis dan berbasis Masyarakat. Dalam berbagai sesi diskusi public, konsep kepedulian bersama (Collective Care) kian didorong sebagai fondasi utama untuk mendampingi para penyintas kekerasan, individu dalam situasi krisis, serta orang muda yang menghadapi tekanan mental.

Pendekatan ini mengakar kuat dari pengalaman lapangan di Jombang, Jawa Timur, yang digawangi oleh Women’s Crisis Center (WCC) Jombang bersama Aliansi Inklusi Jombang. Sebagai organisasi non-pemerintah yang berdiri sejak tahun 1999, WCC Jombang secara konsisten menyediakan bantuan hukum, dukungan psikologis, serta advokasi bagi perempuan dan anak korban kekerasan di Kabupaten Jombang. Langkah ini kemudian diperkuat dengan lahirnya Aliansi Inklusi Jombang pada tahun 2022—sebuah koalisi masyarakat sipil dipimpin orang muda yang merangkul berbagai kelompok lokal demi mempromosikan hak asasi manusia dan keadilan sosial.

Dalam praktiknya, kepedulian bersama terbukti menjadi penyokong vital bagi penyintas kekerasan seksual, perempuan dalam situasi krisis, serta orang muda yang mengalami krisis psikososial. Ruang lingkup pendampingan ini bahkan menyasar kelompok paling rentan, termasuk mereka yang sempat memiliki dorongan untuk mengakhiri hidup akibat kekerasan berbasis gender atau tekanan psikologis usai mengetahui status HIV mereka.

Sesi ini akan menunjukkan bagaimana kepedulian bersama dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi para penyintas agar merasa mampu menceritakan pengalaman mereka. Kami juga akan membahas bagaimana pendekatan ini dapat membantu penyidik kepolisian dalam mewawancarai penyintas yang mungkin merasa takut atau belum mampu terbuka, sehingga membantu mengurangi risiko re-traumatisasi (trauma berulang) dan mendorong proses hukum yang lebih berpusat pada penyintas (survivor-centered).

Keberhasilan pemulihan penyintas tidak dapat dilepaskan dari solidaritas masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Sinergi yang erat melibatkan penyedia layanan kesehatan, psikolog, aparat penegak hukum, dan organisasi masyarakat sipil menjadi kunci utama dalam merajut jaringan pengaman sosial.

Dalam sesi tersebut para peserta akan diperkenalkan pada pendekatan-pendekatan sederhana dan praktis yang digunakan dalam pendampingan, seperti menciptakan rasa aman, membangun kesadaran tubuh (body awareness), menerapkan teknik grounding, berkomunikasi secara suportif, serta memberikan afirmasi. Praktik-praktik ini dapat membantu memulihkan rasa berdaya para penyintas serta memperkuat kapasitas mereka dalam proses pemulihan.

Melalui sesi ini, para peserta diajak untuk memahami kepedulian bersama bukan sekadar sebagai metode dukungan individual. Lebih dari itu, ini adalah upaya membangun ekosistem kepedulian yang mengurangi isolasi dan rasa putus asa, memperkuat suara perempuan, serta menumbuhkan harapan, pemulihan, dan keadilan melalui aksi bersama.

Para peserta akan memperoleh pemahaman praktis mengenai kepedulian bersama sebagai sebuah pendekatan berbasis masyarakat untuk mendukung penyintas kekerasan dan orang-orang dalam kondisi krisis. Mereka juga akan mempelajari perangkat pendampingan yang tanggap trauma (trauma-informed tools) yang dapat disesuaikan dengan kerja-kerja mereka sendiri untuk membantu menciptakan ruang yang lebih aman, penuh empati, dan memberdayakan.

Profil Pembicara

Ana Abdillah, Muhammad Fuad, bersama Ni Ketut Ayu Puspita Dewi

  • Ana Abdillah

Ana adalah seorang advokat publik dan Direktur WCC Jombang, sebuah organisasi layanan yang berfokus pada pendampingan perempuan penyintas kekerasan seksual, peningkatan kesadaran masyarakat, serta advokasi perubahan kebijakan guna mendorong sistem yang lebih adil, aman, dan berpusat pada penyintas.

  • Muhammad Fuad

Muhammad Fuad adalah Koordinator KDS JCC Plus, inisiatif Pejuang Sehat Jombang, dan Aliansi Inklusi Jombang. Ia juga bertindak sebagai konselor/mentor untuk Insan GenRe. Sebagai seorang aktivis sosial yang berdedikasi, Fuad berfokus pada pemajuan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk advokasi kesehatan mental. Ia adalah seorang pendukung sebaya (peer supporter) terpercaya yang memberikan bimbingan, dorongan semangat, dan ruang aman bagi individu yang mencari kekuatan serta pendampingan dalam menjalani proses pemulihan mereka.

  • Ni Ketut Ayu Puspita Dewi (Ayu)

Ayu adalah seorang wirausahawan, pelatih komunikasi empati (compassionate communication trainer), juru bahasa, dan konselor trauma yang berdedikasi untuk membina hubungan, pemberdayaan, dan pemulihan lintas budaya. Ia adalah pendiri Bali Interpreting dan Bali Blessings, organisasi yang menjembatani sekat bahasa dan budaya sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat, pendidikan, serta komunikasi yang berempati. Ayu juga merupakan salah satu pendiri Yayasan Maswara Asih Indonesia, sebuah NGO di Indonesia yang bergerak di bidang bina damai (peacebuilding) dan pemulihan, serta menjabat sebagai Ketua Yayasan Literasi Anak Indonesia, sebuah NGO yang berfokus mempromosikan literasi dalam sistem persekolahan di Indonesia. Melalui karyanya, Ayu membawa pendekatan personal yang berakar pada kearifan budaya untuk memperkuat suara-suara masyarakat, membangun pemahaman bersama, serta mendukung perempuan, orang muda, dan komunitas lokal di Indonesia dalam berbagai konteks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *