Ditulis Oleh : Siti Latifah – WCC Jombang
Catatan reflektif dari kegiatan Perempuan Bahagia Community, Minggu, 11 Oktober 2026, di Gedung Pemkab Bung Tomo, Jombang
Ada luka yang tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tetap bekerja, beraktivitas, tersenyum, dan menjalankan tanggung jawabnya seperti biasa, tetapi menyimpan beban emosional yang tidak mudah diceritakan. Pengalaman masa lalu, hubungan yang tidak sehat, persoalan keluarga, hingga tekanan sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan menjalani kehidupan.
Hal ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kehidupan yang tidak boleh diabaikan. Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dihadapi seseorang di balik sikap dan penampilannya. Karena itu, memahami kesehatan mental bukan hanya tentang mengenali kondisi diri sendiri, tetapi juga belajar memperlakukan orang lain dengan lebih empatik.
Pesan “It’s okay not to be okay” mengingatkan kita bahwa merasa sedih, kecewa, takut, atau lelah bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Kita tidak harus selalu terlihat kuat untuk dianggap mampu menghadapi kehidupan. Ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk beristirahat, bercerita, dan menerima bahwa tidak semua hal dapat diselesaikan sekaligus.
Belajar Bangkit dari Pengalaman Hidup
Salah satu hal yang menarik dari kisah Dian dalam kegiatan “Melepas Luka, Meraih Bahagia” adalah bagaimana seseorang berusaha menemukan kembali dirinya setelah melewati berbagai pengalaman hidup yang tidak mudah.
Perjalanan Dian mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika seseorang merasa telah melakukan banyak hal untuk orang-orang di sekitarnya, tetapi justru kehilangan ruang untuk memahami kebutuhan dan kebahagiaan dirinya sendiri. Ada pula pengalaman dalam hubungan yang membuat seseorang harus kembali menata kehidupan dan menemukan arah yang baru.
Namun, pengalaman sulit tidak harus menjadi akhir dari perjalanan seseorang. Dari kisah Dian, kita belajar tentang keberanian untuk kembali melangkah, menerima diri sendiri, dan membuka kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Bangkit bukan berarti tidak pernah terluka. Bangkit berarti memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk terus bertumbuh, meskipun pernah mengalami hal-hal yang menyakitkan.
Dalam proses tersebut, setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda. Tidak adil jika seseorang yang sedang berusaha pulih justru dituntut untuk segera melupakan masa lalunya atau dianggap lemah karena belum mampu melewati semuanya. Pemulihan bukan perlombaan yang memiliki batas waktu. Seseorang berhak menjalani prosesnya sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.
Ketika menghadapi persoalan yang berat, kita dapat memulainya dengan mengenali perasaan sendiri, memberikan ruang untuk beristirahat, dan mencari dukungan dari orang yang dipercaya. Jika tekanan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental juga merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.
Meminta bantuan bukan tanda kegagalan. Justru, hal tersebut dapat menjadi bentuk keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Perempuan, Beban Domestik, dan Hak untuk Menentukan Diri
Selain membahas kesehatan mental, kegiatan ini juga mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan banyak perempuan, yaitu ketimpangan pembagian kerja domestik dan tuntutan sosial yang sering kali dibebankan kepada mereka.
Perempuan kerap diharapkan mampu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, menjaga hubungan keluarga, sekaligus tetap produktif di ruang publik. Ketika ada pekerjaan domestik yang belum selesai, perempuan tidak jarang menjadi pihak yang paling disalahkan. Padahal, tanggung jawab rumah tangga seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan kewajiban yang dibebankan kepada perempuan seorang diri.
Dalam pemaparannya, Ning Alfiyah Ashmad menekankan pentingnya komunikasi asertif dan keberanian perempuan untuk menyampaikan kebutuhan serta batasan dirinya. Perempuan berhak mengatakan tidak ketika merasa keberatan, menyampaikan pendapat tanpa rasa takut, dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan kehidupannya.
Komunikasi asertif bukan berarti bersikap kasar atau mengabaikan orang lain. Sebaliknya, komunikasi asertif merupakan kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur serta tegas dengan tetap menghargai orang lain.
Hal ini penting karena banyak perempuan terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain hingga mengabaikan dirinya sendiri. Mereka merasa bersalah ketika beristirahat, menolak permintaan, atau memilih mengembangkan potensi di luar rumah. Padahal, menjadi perempuan yang peduli terhadap keluarga tidak berarti harus mengorbankan seluruh kebutuhan pribadi.
Perempuan memiliki hak untuk belajar, bekerja, beristirahat, mengembangkan diri, dan terlibat dalam kehidupan sosial. Pembagian tanggung jawab yang adil di dalam keluarga dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat sekaligus memberikan ruang bagi setiap anggota keluarga untuk bertumbuh.
Dengan demikian, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya mendorong mereka agar lebih kuat dan mandiri. Lingkungan keluarga dan masyarakat juga perlu berubah agar perempuan tidak terus-menerus dibebani tuntutan yang tidak seimbang.
Memulihkan Diri Dimulai dengan Menerima Diri
Dalam proses pemulihan emosional, Nur Rofiqoh, praktisi penyembuhan emosional dan hipnoterapis bersertifikat, mengingatkan pentingnya penerimaan diri dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Masalah yang dihadapi seseorang dapat berasal dari banyak hal, mulai dari persoalan ekonomi, hubungan dengan orang lain, tekanan mental, hingga pengalaman masa lalu yang belum selesai diproses secara emosional. Setiap orang memiliki latar belakang dan cara menghadapi masalah yang berbeda. Karena itu, kita tidak bisa menyamakan proses pemulihan seseorang dengan orang lain.
Menerima diri sendiri bukan berarti membenarkan semua hal yang pernah terjadi atau menyerah pada keadaan. Penerimaan diri berarti berani melihat pengalaman hidup secara lebih jujur, mengakui perasaan yang muncul, dan memahami bahwa diri kita tetap berharga meskipun pernah melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan berpikir positif. Ada masalah yang membutuhkan perubahan situasi, dukungan orang terdekat, perlindungan dari lingkungan yang tidak aman, maupun bantuan profesional. Karena itu, proses pemulihan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah belajar mendengarkan diri sendiri. Mengenali apa yang membuat kita lelah, memahami batas kemampuan, dan menyadari hubungan atau situasi yang membuat kita tidak nyaman merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Kita tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu waktu. Ada kalanya langkah kecil, seperti berani bercerita, meminta pertolongan, atau mengambil jeda dari situasi yang melelahkan, menjadi awal dari perubahan yang berarti.
Ungkapan “terbentur, terbentur, terbentuk” juga mengingatkan bahwa pengalaman hidup dapat menjadi ruang pembelajaran. Namun, bukan berarti seseorang harus mengalami penderitaan terlebih dahulu untuk menjadi lebih kuat. Pengalaman yang menyakitkan tetaplah sesuatu yang tidak seharusnya diremehkan, dan setiap orang berhak mendapatkan dukungan untuk melewatinya.
Menciptakan Ruang Aman untuk Pulih Bersama
Proses pemulihan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Keluarga, teman, lingkungan kerja, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan ruang yang aman bagi seseorang untuk mengungkapkan perasaannya.
Sering kali, orang yang sedang menghadapi masalah justru mendapatkan respons yang membuatnya semakin tertekan. Kalimat seperti “kamu terlalu berlebihan”, “seharusnya kamu lebih kuat”, atau “kenapa baru sekarang bercerita?” mungkin disampaikan tanpa niat menyakiti, tetapi dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami.
Dalam situasi seperti ini, mendengarkan tanpa menghakimi menjadi hal yang penting. Kita tidak selalu harus memiliki jawaban atau memberikan nasihat untuk membantu orang lain. Terkadang, kehadiran yang tulus, kesediaan mendengarkan, dan sikap menghargai cerita seseorang sudah menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Ruang aman juga berarti menghormati batasan pribadi, menjaga kerahasiaan cerita, tidak memaksakan seseorang untuk menceritakan pengalaman yang belum siap dibagikan, serta tidak menyalahkan korban atas kekerasan atau perlakuan buruk yang dialaminya.
Bagi seseorang yang sedang berada dalam hubungan tidak sehat atau mengalami kekerasan, dukungan perlu diberikan dengan mempertimbangkan keselamatan dan kebutuhannya. Kita tidak seharusnya memaksa seseorang mengambil keputusan tertentu tanpa memahami situasinya. Yang lebih dibutuhkan adalah mendengarkan, membantu mengenali pilihan yang tersedia, dan menghubungkannya dengan layanan pendampingan apabila diperlukan.
Masyarakat perlu memahami bahwa kesehatan mental bukan sekadar urusan pribadi. Lingkungan yang penuh tekanan, relasi yang tidak sehat, ketimpangan peran, serta stigma terhadap orang yang mencari bantuan dapat memperberat beban seseorang. Oleh karena itu, membangun kepedulian terhadap kesehatan mental juga berarti memperbaiki cara kita berinteraksi dan menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi.
Melepas Luka, Meraih Bahagia
Kegiatan “Melepas Luka, Meraih Bahagia” mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju kebahagiaan tidak selalu dimulai dengan perubahan besar. Terkadang, semuanya berawal dari keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, menerima bahwa ada hal-hal yang menyakitkan, dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali melangkah.
Kita tidak harus terus-menerus membuktikan bahwa diri kita kuat. Kita juga tidak perlu merasa bersalah ketika membutuhkan waktu untuk beristirahat atau meminta bantuan. Setiap orang memiliki batas kemampuan, dan menghargai batas tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga diri.
Pada saat yang sama, kita perlu belajar menjadi lingkungan yang lebih ramah bagi orang lain. Berhenti menghakimi, tidak mudah menyalahkan, menghargai keputusan seseorang, dan bersedia mendengarkan merupakan langkah sederhana yang dapat membawa perubahan berarti.
Pada akhirnya, bahagia bukan berarti hidup tanpa masalah atau tidak pernah merasakan kesedihan. Bahagia juga dapat berarti menemukan kembali ketenangan, memiliki keberanian untuk menentukan pilihan, dan berada di lingkungan yang menghargai diri kita sebagai manusia.
Melepas luka bukan tentang menghapus seluruh masa lalu, melainkan belajar agar pengalaman tersebut tidak terus-menerus membatasi langkah kita hari ini. Sebab, setiap orang berhak pulih, bertumbuh, dan membangun kehidupan yang lebih baik tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.

