Jalan Pattimura Selatan Blok B No. 7, Jombang Jawa Timur

Ditulis Oleh : M. La Rayba Fie, S.Psi. – Relawan WCC Jombang

“Laki-laki tidak bercerita, cukup pesan kopi Golda dan duduk di depan Ind*maret. Eh tiba-tiba besoknya loncat dari Jembatan Cangar”. Kalimat tersebut sering kita dengar atau lihat berseliweran di media sosial. Mungkin terlihat lucu, tetapi apakah kalimat singkat tersebut akan tetap lucu setelah melihat realita yang terjadi? Berdasarkan data WHO, laki-laki menyumbang 75% total angka bunuh diri global di setiap tahunnya (Hapsari & Karjoso, 2023; Novalina et al., 2022), dan di Indonesia pada tahun 2021, dari total 6.544 kasus bunuh diri, sebanyak 5.095 kasus di antaranya terjadi pada laki-laki, berarti sekitar 77% orang yang melakukan tindakan bunuh diri di Indonesia adalah laki-laki. Di Jombang sendiri, dalam kurun waktu Februari sampai Agustus 2026, ada 6 kasus bunuh diri dan 1 kasus upaya bunuh diri, dengan rentang usia 26-70 tahun. Hal ini kemudian diperkuat dengan data dari Badan Pusat Statistik bahwa hanya 20% laki-laki di Indonesia yang bersedia mencari bantuan profesional ketika dihadapkan dengan masalah tekanan emosional. Maka demikian, narasi humor “Laki-laki tidak bercerita” bukanlah sebuah bahan candaan atau meme internet belaka, melainkan merupakan representasi ketimpangan gender fatal yang menekan ekspresi emosi laki-laki hingga berujung pada keputusan untuk mengakhir hidupnya sendiri (Hapsari & Karjoso, 2023; Kartika & Iqbal, 2023).

Kita mungkin sekarang mulai bertanya-tanya, “Dari mana semua hal ini berasal?”. Menurut Raewyn Connell, masyarakat patriarki menuntut laki-laki untuk memenuhi standar ideal: kuat secara fisik dan mental, rasional, mandiri ekstrem, dominan, dan anti terhadap ekspresi emosional yang dianggap feminin (Haq, 2024; Mustafa et al., 2022). Standar seperti ini bisa kita sebut sebagai Hegemoni Maskulinitas (Hapsari & Karjoso, 2023; Haq, 2024). Norma tak tertulis ini kemudian diinternalisasi sejak dini melalui sosialisasi keluarga, misal lewat ucapan ayah, “cowo ga boleh nangis” atau “cowo harus kuat” (Wahyudi et al., 2022). Akibat didikan sosial itu, laki-laki cenderung mengalami kondisi psikologis yang disebut Alexythimia (ketidakmampuan mengenali, memproses, dan membahasakan emosi mereka sendiri) (Kurniawan & Sudagijono, 2021; Silver et al., 2018). Laki-laki jadi tidak tahu caranya bilang, “aku sedang terluka”, karena sejak kecil mereka secara tidak langsung diajarkan untuk menyembunyikan rasa sakit (Hapsari & Karjoso, 2023; Prayoga, 2023). Pengekangan emosional ini juga bertindak sebagai luka emosional generasional yang diwariskan dari ayah ke anak laki-lakinya, dan begitu seterusnya (Wahyudi et al., 2022).

Pertanyaan selanjutnya, mengapa kemudian laki-laki memilih untuk diam? Laki-laki yang menunjukkan kerentanan emosional sering kali dicap lemah, tidak jantan, alay, lebay, bahkan dilabeli dengan ejekan homofobik atau seksis di lingkungannya (Hapsari & Karjoso, 2023; Kartika & Iqbal, 2023; Nuranie & Fitri, 2020). Banyak laki-laki yang memiliki ketika memilih untuk terbuka, cerita mereka tidak didengarkan dengan empati, melainkan dijadikan bahan candaan dan dibalas dengan kompetisi penderitaan (adu nasib) oleh lawan bicaranya. Hal ini menjadi akibat dari internalisasi nilai maskulinitas yang terlalu kuat (Chusna et al., 2022; Hapsari & Karjoso, 2023), laki-laki mulai melakukan sabotase mental: mereka menyalahkan diri mereka sendiri ketika merasa sedih, menganggap rasa lelah mereka tidak valid, dan menganggap mengeluh sebagai dosa (Budiman et al., 2024). Masalah ini kemudian mengantarkan mereka pada kondisi Epistemic Oppression (Penindasan Epistemik), yaitu fase di mana laki-laki kehilangan kepercayaan dan legitimasi atas kebenaran perasaannya sendiri.

Emosi yang terus menerus dipendam dan diredam (alexithymia) (Kurniawan & Sudagijono, 2021), pada nantinya akan berujung pada akumulasi stres internal yang parah, insomnia, kecemasan, hingga depresi klinis (Anjani et al., 2023). Karena tidak memiliki penyaluran emosi yang sehat, laki-laki memiliki tendensi untuk menggunakan mekanisme koping destruktif (maladaptive coping) seperti merokok berlebihan, nge-game tanpa batas, mengonsumsi alkohol dan zat adiktif berbahaya lainnya, hingga agresi fisik (Kartika & Iqbal, 2023; Melani et al., 2024). Akumulasi dari depresi yang tidak teridentifikasi (hidden depression), tidak tersedianya “ruang aman” untuk mengomunikasikan kerapuhan, ditambah dengan sifat laki-laki yang secara psikologis cenderung lebih impulsif dalam mengambil tindakan berbahaya (Novalina et al., 2022), membuat stres yang menumpuk ini acapkali “meledak” langsung dalam bentuk keputusan fatal mengakhiri hidup (Susila et al., 2023).

Lalu apa yang harus dilakukan? Dekonstruksi maskulinitas dipandang perlu untuk segera digalakkan (Wafidhi, 2023). Penggunaan perspektif etika Emmanuel Levinas untuk mengajak masyarakat memandang kerentanan laki-laki sebagai “The Others” yang wajib dilindungi tanpa penghakiman bisa dijadikan ide dasar kampanye konsep Maskulinitas Positif yang mendefenisikan ulang arti kejantanan melalui nilai-nilai empati, kasih sayang, keterbukaan emosional, dan keberanian untuk mencari bantuan profesional (Novalina et al., 2022; Wafidhi, 2023). Masyarakat harus berhenti bertindak sebagai “penilai” gender. Semua laki-laki berhak divalidasi dan dilindungi kerentanannya lewat perspektif kemanusiaan, tanpa harus menuntut mereka terus tampil sempurna tanpa cacat (Hapsari & Karjoso, 2023). Pembentukan ruang aman berbasis komunitas akar rumput juga harus terus didorong, dengan diintegrasikan dengan peran aktif orang tua dalam mendidik emosi anak laki-laki sejak dini (Melani et al., 2024), serta program bimbingan konseling yang inklusif gender (Budiman et al., 2024). Hal ini demi meningkatkan minat laki-laki untuk mencari bantuan profesional dan meredefinisi aturan emosional mereka (Hapsari & Karjoso, 2023; Silver et al., 2018).

Narasi “Laki-laki tidak bercerita” yang terus hidup di masyarakat bukanlah komedi sepele yang bisa kita biarkan sambil terus melanjutkan tawa, tetapi merupakan bentuk pembiaran terhadap hilangnya nyawa laki-laki secara sunyi. Mendengarkan keluh kesah laki-laki tanpa penghakiman dan adu nasib bukanlah tindakan yang mengebiri maskulinitas mereka, melainkan sebuah aksi kemanusiaan yang setara dengan menyelamatkan nyawa. Karena ruang berekspresi adalah hak setiap manusia, tanpa terkecuali. Maka bagi para laki-laki, mulailah bercerita.

“Laki-laki sejati bukanlah mereka yang menderita dalam kebisuan. Laki-laki sejati adalah mereka yang berani melepaskan topeng, mengakui rasa sakit, dan jujur akan perasaan”

Referensi:

Anjani, D. A. V. N., Chauna, S., Almuwaffaq, H. W., Apryani, R., & Amalia, E. (2023). Perkembangan Terkini Perilaku Bunuh Diri pada Orang dengan Depresi. Unram Medical Journal, 12(2), 180–189. https://doi.org/10.29303/jk.v12i2.4394

Budiman, A. T., Utami, P. D., & Subaidi, S. (2024). Mengurangi Stigma: Menjelaskan Gangguan Mental “Ringan” dan Dampaknya terhadap Kehidupan Sehari-hari. Jurnal Psikologi Dan Konseling West Science, 2(01), 32–42. https://doi.org/10.58812/jpkws.v2i01.1054

Chusna, I. N., Karismalia, A. M., Putri, M. S., & Astuti, E. Z. L. (2022). STRATEGI KEBIJAKAN GENDER ANALYSIS PATHWAY (GAP) UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH SOSIAL BUNUH DIRI DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL. Oisaa Journal of Indonesia Emas, 5(2), 141–147. https://doi.org/10.52162/jie.2022.005.02.8

Hapsari, J. H., & Karjoso, T. K. (2023). Maskulinitas dan Perilaku Mencari Bantuan Kesehatan Mental pada Laki-laki di Negara Berkembang : Literature Review. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (Mppki), 6(3), 373–383. https://doi.org/10.56338/mppki.v6i3.2848

Haq, S. A. (2024). The Phenomenon of Male Entitlement and Defense Intervention Through Peace Psychology. Journal of Feminism and Gender Studies, 4(1), 75. https://doi.org/10.19184/jfgs.v4i1.43466

Kartika, K., & Iqbal, M. (2023). Toxic Masculinity di TikTok. Aksiologi Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 48–62. https://doi.org/10.47134/aksiologi.v4i2.160

Kurniawan, M. A., & Sudagijono, J. S. (2021). HUBUNGAN ALEXITHYMIA DAN KECENDERUNGAN BUNUH DIRI PADA REMAJA LAKI-LAKI DI SURABAYA. Experientia Jurnal Psikologi Indonesia, 9(2), 126–136. https://doi.org/10.33508/exp.v9i2.2904

Melani, M., Prastita, N. P. G., Putri, R. T. D., & Adnani, Q. E. S. (2024). Promosi Kesehatan Remaja dengan Pendekatan KIPK. https://doi.org/10.36590/penerbit.salnesia.2

Mustafa, R. Z., Priyatna, A., & Adipurwawidjana, A. J. (2022). Konstruksi Fatherhood Dalam Film 27 Steps Of May. Metahumaniora, 12(1), 1–17. https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v12i1.34410

Novalina, M., Flegon, A. S., Valentino, B., & Gea, F. S. I. (2022). Kajian Isu Toxic Masculinity di Era Digital dalam Perspektif Sosial dan Teologi. Jurnal Efata Jurnal Teologi Dan Pelayanan, 8(1), 28–35. https://doi.org/10.47543/efata.v8i1.56

Nuranie, S., & Fitri, S. (2020). Studi Kasus Kekerasan Emosional Pada Laki-Laki Muda Feminin (Feminine Youth Male). Insight Jurnal Bimbingan Konseling, 9(1), 79–93. https://doi.org/10.21009/insight.091.08

Prayoga, G. (2023). Critism of Toxic Masculinity in The Power Of The Dog Movie Based on Social Context. Social Science Studies, 3(6), 500–527. https://doi.org/10.47153/sss36.6802023

Silver, K. E., Levant, R. F., & González, A. (2018). What does the psychology of men and masculinities offer the practitioner? Practical guidance for the feminist, culturally sensitive treatment of traditional men. Practice Innovations, 3(2), 94–106. https://doi.org/10.1037/pri0000066

Susila, W. D. C., Putri, Y. S. E., & Wardani, I. Y. (2023). APPLICATION OF COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY (CBT) AND FAMILY PSUCHOEDUCATION (FPE) IN PATIENTS AT RISK OF SUICIDE. Jurnal Perawat Indonesia, 7(2), 1398–1406. https://doi.org/10.32584/jpi.v7i2.1835

Wafidhi, A. (2023). New Masculinities as Prevention and Resistance to Violence Against Women. Journal of Feminism and Gender Studies, 3(2), 159. https://doi.org/10.19184/jfgs.v3i2.39687 Wahyudi, A., SM, A. E., & Risdiyanto, B. (2022). REPRESENTASI TOXIC MASCULINITY PADA FILM “NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI (NKCTHI).” Jurnal Komunikasi Dan Budaya, 3(1), 101–111. https://doi.org/10.54895/jkb.v3i1.1425

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *